Feast
9 min read

Paskah:Kristus Bangkit dan Pemulihan Kodrat Manusia

Fray Dalton

Fray Dalton

Diterbitkan pada April 16, 2026

Icon Kebangkitan Paskah

Icon Kebangkitan Paskah

Christ is risen. He is truly risen.

Ringkasan homili oleh YM Romo Episkop Daniel, dari Nikopolis dan Seluruh Indonesia

Saudara-saudara, inilah hari yang paling membahagiakan dalam perayaan iman Kristen Ortodoks: hari kebangkitan Kristus.

Di dalam bacaan Paskah, khususnya dari Injil Yohanes dan Kisah Para Rasul 1, ada dua pokok penting yang menolong kita memahami makna karya Kristus bagi keselamatan manusia. Yang pertama, Kristus adalah Firman yang pada mulanya bersama-sama dengan Allah dan adalah Allah. Yang kedua, melalui kebangkitan-Nya, Kristus memulihkan manusia dari keadaan jatuh, maut, dan kebinasaan.

Kristus Sang Firman dan Pencipta

Injil Yohanes mengajarkan:

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

Kristus yang memiliki kodrat sebagai ilahi dan sebagai manusia

Segala sesuatu dijadikan oleh Dia, dan tanpa Dia tidak ada sesuatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Karena itu, ketika Gereja berbicara tentang Kristus, Gereja tidak hanya berbicara tentang seorang guru moral atau nabi, melainkan tentang Firman Allah sendiri, Sang Pencipta.

Namun karya Kristus bukan hanya penciptaan pertama. Dalam terang Paskah, Kristus juga dipahami sebagai Pencipta ulang kemanusiaan. Ia datang untuk memulihkan manusia yang telah jatuh dari tujuan mula-mula penciptaannya.

Manusia Diciptakan Menurut Gambar untuk Bertumbuh Menuju Rupa

Kitab Kejadian mengatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Dalam penjelasan khotbah ini, dibedakan bahwa dalam bahasa Yunani terdapat perbedaan antara “gambar” dan “rupa”. Manusia diciptakan menurut gambar Allah agar bertumbuh menuju keadaan menurut rupa Allah.

Dalam tradisi Yunani, “gambar” disebut eikon, sedangkan “rupa” atau “keserupaan” disebut homoiosis. Manusia diciptakan menurut gambar Allah agar bertumbuh menuju keserupaan dengan Allah.

Hal ini kemudian dijelaskan dengan merujuk kepada 2 Petrus 1:4, bahwa manusia dipanggil untuk “mengambil bagian dalam kodrat ilahi.”

Tentu maksudnya bukan manusia menjadi Allah dalam hakikat-Nya. Manusia tidak menjadi Allah menurut kodrat. Yang dimaksud adalah manusia dipanggil untuk menjadi seperti Allah: hidup, kudus, mulia, bahagia, dan mengambil bagian dalam hidup ilahi menurut rahmat. Apa yang Allah miliki menurut kodrat-Nya, dianugerahkan kepada manusia menurut kasih karunia-Nya.

Inilah tujuan luhur penciptaan manusia.

Kejatuhan Manusia dan Kematian Rohani

Sayangnya, sebelum manusia sampai kepada kepenuhan itu, manusia jatuh ke dalam dosa. Akibat kejatuhan itu, manusia kehilangan hidup ilahi yang semula menopang keberadaannya.

Upah dosa adalah maut.

Dalam khotbah ini dijelaskan bahwa kematian manusia bukan pertama-tama dipahami hanya secara biologis, melainkan secara rohani. Roh manusia terputus dari hidup Allah. Karena itulah Efesus 2:1 berkata bahwa manusia “sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa.”

Demikian juga Efesus 4:18 dijelaskan dengan penekanan pada ungkapan Yunani yang dimaksud sebagai:

apēllotriōmenoi tēs zōēs tou Theou

yang berarti: terasing dari hidup Allah.

Jadi persoalannya bukan sekadar manusia kurang religius atau kurang saleh, melainkan bahwa manusia telah terasing dari hidup Allah sendiri. Roh manusia masih ada, tetapi berada dalam keadaan mati rohani; ia tidak lagi memiliki kuasa untuk memberi kehidupan kepada tubuh sebagaimana semestinya. Karena itulah manusia makin tua, makin rapuh, lalu mati.

Allah Tidak Menghendaki Manusia Binasa

Namun Allah tidak meninggalkan manusia dalam keadaan itu.

2 Petrus 3:9 menegaskan bahwa Tuhan tidak menghendaki seorang pun binasa.

1 Timotius 2:4 menyatakan bahwa Allah “menghendaki supaya semua orang diselamatkan.”

Inilah Allah yang diberitakan Alkitab: Allah yang penuh belas kasihan, Allah yang mengasihi, Allah yang menghendaki keselamatan ciptaan-Nya.

Karena itulah Firman Allah turun ke dunia dan menjadi manusia.

Mengapa harus demikian? Mengapa Allah tidak “langsung saja” mengampuni?

Jawabannya, menurut homili ini, karena masalah keselamatan bukan sekadar soal pengampunan hukuman, melainkan soal pemulihan kodrat manusia. Masalahnya bukan hanya manusia bersalah, tetapi manusia telah rusak oleh dosa dan maut. Karena itu yang dibutuhkan bukan sekadar amnesti atau pengampunan, melainkan pemulihan.

Salib sebagai Ketaatan yang Memulihkan

Setelah menjadi manusia, Kristus mati di salib. Mengapa Ia harus mati?

Khotbah ini menjelaskan bahwa kematian Kristus di salib adalah tindakan kerendahan hati dan ketaatan. Manusia jatuh karena ketidaktaatan; maka untuk memulihkan kemanusiaan, ketidaktaatan itu harus dihancurkan dengan jalan yang berlawanan, yaitu ketaatan.

Karena itu Filipi 2:8 menjadi sangat penting:

Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Di sini ditekankan pula bahwa yang mati bukan keallahan Kristus. Allah tidak dapat mati. Yang mati adalah kodrat kemanusiaan yang diambil-Nya dari Bunda Maria. Maka salib adalah peristiwa ketaatan sempurna dalam kemanusiaan Kristus.

Mengapa Harus Mati di Salib?

Lalu timbul pertanyaan: mengapa harus mati dengan cara disalibkan?

Jawaban khotbah ini merujuk kepada Ulangan 21:22–23, bahwa orang yang digantung pada kayu atau tiang dipandang sebagai orang yang terkutuk. Dalam penjelasan ini, kayu salib dipahami sebagai pole / tree / cross, yakni alat hukuman yang menanggung kutuk menurut hukum.

Masalahnya, Yesus bukan penjahat. Ia tidak berdosa. 1 Yohanes 3:5 mengatakan bahwa di dalam Dia tidak ada dosa.

Karena itu, ketika Kristus mati di salib, Ia tidak menanggung kutuk karena dosa-Nya sendiri, melainkan menjadi kutuk bagi kita, supaya kuasa kutuk itu dipatahkan.

Sebagaimana ditegaskan dalam Galatia 3:13:

Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita.

Bukan Taurat itu jahat, tetapi manusia tidak sanggup memenuhi seluruh tuntutan Taurat. Karena itu hukum yang kudus justru menyingkapkan keberdosaan manusia. Yakobus 2:10 juga dikutip untuk menegaskan bahwa melanggar satu bagian berarti bersalah terhadap seluruhnya.

Maka manusia tidak dapat menyelamatkan diri dengan mengumpulkan jasa-jasa moral. Keselamatan datang karena Kristus menanggung kutuk itu dan menghancurkan kuasanya lewat salib.

Pengampunan Bukan Sekadar Pemaafan

Dalam khotbah ini ditekankan bahwa pengampunan dalam iman Kristen bukan sekadar seperti seseorang berkata, “ya sudah, saya maafkan.”

Pengampunan adalah pemulihan hubungan dan pemulihan keadaan. Dosa dihukum dalam tubuh Kristus, dan melalui ketaatan-Nya manusia dipulihkan kembali kepada Allah.

Roma 5:19 menjadi dasar penting:

“Sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.”

Jadi keselamatan dalam Kristus bukan sekadar pelepasan dari hukuman, melainkan pemulihan relasi manusia dengan Allah.

Kristus Turun ke Dalam Maut dan Mengalahkan Iblis

Kristus turun ke dalam maut sesaat sebelum perayaan Paskah

Sesudah wafat-Nya, Kristus dikuburkan. Dalam khotbah ini, penguburan Kristus dipahami bukan sekadar fakta sejarah, tetapi sebagai masuknya Kristus ke dalam wilayah maut.

Ibrani 2:14 dijadikan dasar bahwa Kristus mengambil bagian dalam darah dan daging supaya melalui kematian-Nya Ia memusnahkan dia yang berkuasa atas maut, yaitu iblis.

Dengan kata lain, Kristus masuk ke wilayah yang secara manusiawi tampak berada di bawah kuasa maut. Tetapi Ia tidak tinggal di sana. Pada hari ketiga Ia bangkit. Kubur tidak dapat menahan-Nya. Iblis tidak dapat mempertahankan kuasanya atas Dia.

Karena itulah nama Yesus ditakuti oleh kuasa-kuasa gelap: sebab mereka telah dikalahkan.

Catatan tentang Imajinasi Alam Bawah dalam Tradisi Tionghoa

Dalam bagian khotbah yang lebih kultural, dijelaskan bahwa dalam keyakinan tradisional Tionghoa ada gambaran tentang alam bawah yang dikuasai Yama Wang, tempat orang mati diadili dan menanggung konsekuensi dari hidupnya.

Disebut pula kisah tentang Meng Po, sosok yang memberikan sup pelupa kepada arwah sebelum memasuki kelahiran kembali, sehingga ia melupakan kehidupan sebelumnya.

Bagian ini tidak dipakai sebagai ajaran Kristen, melainkan sebagai ilustrasi bahwa dalam banyak kebudayaan manusia memiliki kesadaran bahwa kematian tidak sederhana, bahwa ada ketakutan terhadap penghakiman, dunia orang mati, dan kuasa-kuasa di baliknya. Dalam terang iman Kristen, manusia yang mati dalam keterpisahan dari Allah tidak mungkin bersatu dengan Dia kecuali Allah sendiri bertindak menyelamatkan.

Kebangkitan Kristus dan Pembebasan dari Kelapukan

Puncak homili ini adalah kebangkitan Kristus.

Kristus tidak hanya mati untuk manusia; Ia bangkit untuk membebaskan manusia dari kelapukan, kebinasaan, dan maut. Roma 8:23 dipakai untuk menjelaskan bahwa keselamatan bukan sekadar “masuk surga,” tetapi juga pembebasan tubuh.

Tubuh manusia yang diambil Kristus dari Perawan Maria dipakai-Nya untuk mengalahkan dosa, maut, iblis, dan kelapukan. Karena tubuh itu bangkit dalam kemuliaan, maka siapa pun yang berada di dalam Kristus juga memiliki pengharapan akan pemulihan dan pemuliaan.

Dipulihkan Menurut Gambar Allah

Kolose 3:9–10 dan Efesus 4:23–24 dipakai untuk menunjukkan bahwa manusia baru di dalam Kristus sedang terus diperbarui menurut gambar Penciptanya.

Artinya, melalui Kristus, manusia dipulihkan kembali kepada tujuan awal penciptaannya: menjadi manusia yang hidup dalam gambar Allah dan bergerak menuju keserupaan dengan-Nya.

Dengan demikian, Paskah adalah perayaan penciptaan baru. Kristus, Sang Firman, bukan hanya menciptakan dunia pada awal mula, tetapi juga menciptakan ulang manusia yang telah rusak oleh dosa.

Kebangkitan Kristus sebagai Dasar Harapan Orang Beriman

Homili ini lalu menegaskan 1 Korintus 15: jika Kristus tidak dibangkitkan, sia-sialah pengharapan orang beriman.

Namun kenyataannya:

Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.

Ia disebut yang sulung karena Ia adalah yang pertama, dan melalui Dia mereka yang menjadi milik-Nya akan ikut dibangkitkan.

Di sinilah pentingnya baptisan. Dalam baptisan, orang percaya dipersatukan dengan Kristus. Galatia 3:27 dikutip:

Kamu semua yang dibaptis dalam Kristus telah mengenakan Kristus.

Karena telah mengenakan Kristus, orang percaya ikut ambil bagian dalam kehidupan-Nya. Jika Adam mewariskan kematian, Kristus mewariskan kehidupan. Jika melalui Adam manusia menerima kodrat yang menuju maut, maka melalui Kristus orang percaya menerima hidup baru.

Kemenangan Terakhir atas Maut

Akhirnya, homili ini menutup dengan penjelasan bahwa pada kedatangan Kristus kelak, segala kuasa kegelapan akan dihancurkan.

Efesus 6:12 dikutip untuk menegaskan bahwa pergumulan orang percaya bukan hanya melawan darah dan daging, tetapi juga melawan pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, penghulu-penghulu dunia yang gelap, dan roh-roh jahat di udara.

Tetapi semua itu tidak akan bertahan selamanya.

Dalam 1 Korintus 15 ditegaskan bahwa musuh terakhir yang dibinasakan adalah maut. Dengan demikian, kebangkitan Kristus adalah awal dari kehancuran kuasa dosa, iblis, dan kematian itu sendiri.

Karena itu orang Kristen tidak perlu hidup dalam ketakutan mutlak terhadap kuasa gelap. Yang lebih berkuasa daripada semuanya adalah Kristus yang telah bangkit.

Pegang Iman Erat-Erat

Maka pesan pastoral homili ini sangat jelas: peganglah iman erat-erat.

Jangan meninggalkan Kristus demi apa pun yang sementara: demi kekayaan, kedudukan, pekerjaan, atau relasi. Semua itu fana. Tetapi di dalam Kristus manusia memperoleh sesuatu yang tidak dapat diberikan dunia, yakni kesempatan untuk dipulihkan kembali kepada tujuan penciptaannya: mengambil bagian dalam kodrat ilahi.

Semua itu hanya mungkin melalui Yesus Kristus.

Kristos Anesti!

Kristus telah bangkit!


Rujukan Alkitab

Perjanjian Lama:

Kejadian 1:26–27; Ulangan 21:22–23.

Perjanjian Baru:

2 Petrus 1:4; Efesus 2:1; 4:18; 4:23–24; Filipi 2:8; 1 Timotius 6:16; 1 Yohanes 3:5; Galatia 3:10, 13, 27; Yakobus 2:10; Roma 5:19; 8:23; Ibrani 2:14; Kolose 3:9–10; 1 Korintus 15:19–26.


Tonton Homili lengkapnya pada video berikut:

Lanjutkan Perjalanan

Renungan lanjutan bagi jiwa yang beriman

Lihat Semua Tulisan

Bergabunglah dengan Gulungan yang Hidup

Terima renungan rohani mingguan, pembaruan liturgi, dan tulisan dari para Bapa Gereja langsung di kotak masuk Anda.