Di dunia yang terus berubah, temukan Iman yang kekal sepanjang segala zaman. Kekristenan Ortodoks bukanlah agama masa lalu, melainkan kehadiran yang hidup dari Gereja Apostolik di dunia modern.
"Datang dan Lihatlah. Kerajaan Allah ada di antara kamu."
Orthodox adalah Gereja Kristen yang asli, didirikan oleh Yesus Kristus dan para Rasul. Selama ribuan tahun, ia telah menjaga iman yang "sekali untuk selamanya disampaikan kepada orang-orang kudus" tanpa perubahan.
Ia adalah rumah sakit bagi jiwa, tempat penyembuhan di mana pribadi manusia dipulihkan kepada keindahan aslinya melalui persekutuan dengan Allah Tritunggal.

Garis langsung dan tak terputus dari uskup-uskup yang ditahbiskan membentang hingga para Rasul, melestarikan dan meneruskan iman yang sama sepanjang segala abad.
Misteri Iman yang melampaui budaya, bahasa, dan sejarah, memberitakan kebenaran yang sama dari zaman ke zaman.

"Sebab itu, saudara-saudara, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan maupun secara tertulis."
2 Tesalonika 2:15
Kami memandang Alkitab bukan sebagai buku yang dibaca secara terpisah, melainkan sebagai jantung kehidupan Gereja. dilengkapi dengan Synaxarion & catatan sejarah para bapa-bapa gereja membentuk ajaran sebagaimana kita kenal hari ini.
Tradisi adalah "memori hidup Gereja." Ia adalah Roh Kudus yang berdiam dalam tubuh orang-orang beriman, membimbing kita ke dalam seluruh kebenaran melalui Liturgi, para Bapa Gereja, dan Konsili-Konsili. Membuktikan iman saja tidak cukup jika tidak dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam Orthodoxia, roh dan jasad tidak bisa dipisahkan. Melalui Sakramen-sakramen (Misteri-misteri), Allah menemui kita dalam unsur-unsur dunia—roti, anggur, air, dan minyak.
"Obat Keabadian." Kami percaya roti dan anggur sungguh-sungguh menjadi Tubuh dan Darah Kristus, menyatukan kita kepada-Nya dan satu sama lain.
Pusat IbadahPartisipasi nyata bersatu dengan Allah, kematian bagi diri yang lama dan lahir kembali dalam penghidupan Kristus.
"Baptisan Kedua," di mana kita meletakkan beban kita dan menerima pengampunan penyembuhan dari Allah.
Rumah Sakit bagi JiwaKehidupan sakramen bukanlah sesuatu untuk dipahami, melainkan kehidupan untuk dihidupi. Bergabunglah dalam ibadah untuk menyaksikan misteri ilahi lainnya.
Lihat JadwalDengan kelembutan dan rasa hormat, kami menyambut pertanyaan Anda.
Gereja Ortodoks Indonesia (GOI) berada di bawah yurisdiksi Gereja Ortodoks Sejati Yunani. Uskup-uskup kami mempertahankan suksesi apostolik yang tak terputus, melestarikan iman yang diturunkan dari para Rasul.
Gereja Ortodoks adalah Gereja Kristen yang asli, didirikan oleh Kristus dan para Rasul-Nya pada hari Pentakosta. Kami berpegang pada iman Gereja purba yang tak berubah — mengaku Iman Nikea, merayakan tujuh Sakramen, dan mengikuti ajaran para Bapa Suci dan Tujuh Konsili.
Tidak. Kami menghormati ikon, tetapi kami menyembah Allah saja. Ikon adalah "jendela ke surga" yang mengarahkan pikiran dan hati kita kepada pribadi yang digambarkan, seperti seseorang yang mencium foto orang yang dikasihi. Ajaran ini ditegaskan oleh Konsili Ketujuh pada tahun 787 M.
Tentu saja. Semua orang disambut untuk menghadiri ibadah kami. Meskipun Komuni Kudus diperuntukkan bagi orang Kristen Ortodoks yang telah dibaptis, kami mengundang Anda untuk berpartisipasi dalam semua aspek lain dari Liturgi dan menerima roti yang diberkati (antidoron) di akhir ibadah.
Ibadah kami melibatkan seluruh indra. Anda akan melihat ikon, mencium dupa, mendengar kidungan a cappella yang indah, serta merasakan kehadiran jemaat yang berdiri dalam doa.
Ibadah Ortodoks bersifat liturgis, mengikuti pola yang berasal dari berabad-abad lalu. Mungkin terasa asing pada awalnya, tetapi kami mengajak Anda untuk membiarkan keindahannya meresap dalam diri Anda.
Setelah Liturgi Ilahi, kami berkumpul biasanya kita mengadakan potluck. Ini adalah waktu terbaik untuk bertemu dengan imam kami dan ajukan pertanyaan apa pun.
"Ada aturan berpakaian yang perlu diperhatikan: diharapkan pria mengenakan celana panjang dan wanita dianjurkan berkerudung dan mengenakan rok panjang. Yang terpenting, bawalah hati yang terbuka."