Church
6 min read

Substansi AnggurKomuni

Fray Dalton

Fray Dalton

Diterbitkan pada May 6, 2026

Substansi Anggur Komuni

Substansi Anggur Komuni

Ditulis ulang dari naskah asli oleh: Daniel Fs, S.Psi

Tanggal naskah asli: 08 Mei 2012

Versi ini telah dirapikan dan dilengkapi dengan catatan kaki serta referensi tambahan.

Ada ajaran modern yang mengatakan bahwa pada Perjamuan Terakhir, Kristus memakai buah anggur tanpa alkohol, sehingga sebagian kelompok sekarang memakai jus anggur atau sirup anggur non-alkohol sebagai unsur komuni. Biasanya ayat yang dipakai untuk mendukung pandangan ini adalah Lukas 22:18.

“Sebab Aku berkata kepada kamu: mulai dari sekarang ini Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai Kerajaan Allah telah datang.”

Lukas 22:18

Dalam teks Yunani, frasa “hasil pokok anggur” adalah:

γενήματος τῆς ἀμπέλου

genēmatos tēs ampelou

Secara harfiah, frasa ini berarti hasil dari pokok anggur atau produk dari tanaman anggur. Dari sini lalu muncul argumen bahwa yang dipakai Kristus belum tentu minuman beralkohol, karena yang disebut hanya “hasil anggur”.

Masalahnya, argumen ini tidak cukup kuat jika dilihat dari konteks Kitab Suci dan praktik dunia kuno.

Bukan buah anggur utuh, melainkan hasil olahannya

Dalam ayat lain, misalnya Matius 7:16, kata yang dipakai untuk buah anggur adalah istilah yang berbeda.

“Dari buahnya kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?”

Matius 7:16

Di sini dipakai kata Yunani:

σταφυλήν

staphylēn

Kata ini menunjuk pada buah anggur itu sendiri, bukan hasil olahannya. Jadi memang ada perbedaan antara:

  • staphylē = buah anggur
  • genēma tēs ampelou = hasil atau produk dari pokok anggur

Artinya, yang dipakai Kristus dalam Perjamuan Kudus bukan buah anggur utuh, melainkan minuman yang berasal dari buah anggur.[^1]

Lalu, apakah minuman itu beralkohol?

Kalau kita lihat kesaksian Perjanjian Baru, jawabannya condong jelas: ya, itu adalah anggur yang dapat memabukkan jika dipakai secara tidak benar.

“Apabila kamu berkumpul, kamu bukanlah berkumpul untuk makan perjamuan Tuhan. Sebab pada perjamuan itu tiap-tiap orang memakan dahulu makanannya sendiri, sehingga yang seorang lapar dan yang lain mabuk.”

1 Korintus 11:20-21

Ayat ini penting. Rasul Paulus menegur jemaat Korintus karena memperlakukan Perjamuan Kudus dengan tidak layak. Salah satu masalahnya adalah ada yang mabuk. Kalau anggur yang dipakai benar-benar tidak mengandung alkohol sama sekali, maka teguran soal mabuk di sini jadi tidak masuk akal.[^2]

Jadi, dari konteks ini saja sudah terlihat bahwa anggur perjamuan di jemaat mula-mula bukan sekadar sirup atau jus anggur modern tanpa fermentasi.

Alkitab tidak melarang anggur, yang dilarang adalah mabuk

Poin ini sering dikacaukan. Kitab Suci tidak mengajarkan bahwa semua penggunaan alkohol itu otomatis berdosa. Yang dilarang adalah kemabukan.

“Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh.”

Efesus 5:18

Ayat ini tidak berkata “jangan gunakan anggur sama sekali,” tetapi “jangan mabuk oleh anggur.” Jadi masalahnya bukan keberadaan alkohol itu sendiri, tetapi penyalahgunaannya.[^3]

Dalam dunia Yahudi dan Kristen kuno, wine memang anggur fermentasi

Dalam konteks Yahudi abad pertama, “anggur” dalam perjamuan religius dipahami sebagai wine, yaitu anggur yang telah difermentasi. Memang kadar alkoholnya tidak setinggi minuman sulingan modern, dan sering juga diencerkan dengan air, tetapi tetap itu anggur fermentasi, bukan jus anggur steril seperti produk modern.[^4]

Ini penting, karena teknologi untuk menyimpan jus anggur tetap segar tanpa fermentasi dalam jangka panjang belum dikenal seperti sekarang. Dalam budaya Mediterania kuno, anggur yang dipakai dalam makan dan ibadah hampir selalu dipahami sebagai minuman fermentasi.[^5]

Kesaksian tradisi Gereja awal

Tradisi Gereja awal juga konsisten memakai anggur sungguhan dalam Ekaristi. Dalam berbagai sumber kuno, unsur Ekaristi selalu disebut sebagai roti dan anggur.

Misalnya, dalam First Apology, St. Justin Martyr menjelaskan unsur Ekaristi sebagai roti dan minuman yang telah didoakan, yang dipahami Gereja sebagai Tubuh dan Darah Kristus.[^6]

Begitu juga dalam Didache, cawan syukur disebut dalam konteks anggur liturgis, yang jelas berakar pada praktik Perjamuan Kristen awal.[^7]

Di banyak tradisi liturgis kuno, anggur ini juga dicampur sedikit air. Tapi dicampur air bukan berarti berubah menjadi non-alkohol. Itu tetap wine, hanya dengan bentuk penyajian yang lazim pada zaman kuno.[^8]

Soal kadar alkohol

Substansi anggur komuni memang mengandung alkohol, tetapi dalam kadar yang relatif rendah dibanding minuman sulingan modern. Fermentasi alami biasanya berada di kisaran tertentu, dan dalam dunia kuno kadarnya umumnya lebih rendah lagi karena:

  • kadar gula alami terbatas,
  • belum ada teknologi distilasi modern,
  • dan dalam banyak kasus anggur juga dicampur air.[^9]

Jadi benar, anggur komuni bukan minuman keras tinggi seperti vodka, whisky, atau spirit sulingan. Tapi tetap saja itu anggur fermentasi, bukan nol alkohol.

Kesimpulan

Kalau dilihat dari:

  • istilah Alkitab,
  • konteks 1 Korintus 11,
  • larangan mabuk dalam Efesus 5,
  • praktik Yahudi kuno,
  • dan kesaksian Gereja awal,

maka kesimpulannya cukup jelas:

substansi anggur komuni secara historis dan gerejawi adalah anggur fermentasi, yaitu anggur yang mengandung alkohol dalam kadar wajar, bukan jus anggur modern tanpa fermentasi.

Yang dilarang oleh Kitab Suci bukan anggurnya, tetapi kemabukannya.

Yang dijaga oleh Gereja bukan rasa takut berlebihan terhadap unsur alkohol, tetapi kesetiaan pada warisan apostolik dan liturgis yang telah diterima.


Catatan Kaki

[^1]: Lihat perbedaan istilah Yunani antara genēma tēs ampelou dalam Luk. 22:18 dan staphylē dalam Mat. 7:16.

[^2]: 1 Kor. 11:21 menunjukkan bahwa minuman dalam perjamuan itu dapat menyebabkan mabuk bila disalahgunakan.

[^3]: Bdk. Ef. 5:18. Larangan alkitabiah diarahkan pada kemabukan, bukan pada semua penggunaan anggur.

[^4]: I. Howard Marshall, Last Supper and Lord’s Supper (Grand Rapids: Eerdmans, 1980), terutama pembahasan soal konteks Yahudi dan perjamuan Kristen awal.

[^5]: Lihat juga pembahasan budaya anggur di dunia kuno dalam Andrew Dalby, Food in the Ancient World from A to Z (Routledge, 2003), entri tentang wine.

[^6]: Justin Martyr, First Apology, ch. 65-67. Tersedia online di New Advent.

[^7]: Didache, ch. 9-10. Tersedia online di Early Christian Writings.

[^8]: Joseph Jungmann, The Mass of the Roman Rite, vol. 1, untuk pembahasan sejarah pencampuran air dan anggur dalam liturgi; praktik serupa juga dikenal luas di Timur.

[^9]: Kadar fermentasi alami anggur berbeda-beda, tetapi dunia kuno tidak mengenal spirit modern hasil distilasi tinggi seperti sekarang.


Referensi Internet


Referensi Literatur

  • Andrew Dalby, Food in the Ancient World from A to Z. Routledge, 2003.
  • I. Howard Marshall, Last Supper and Lord’s Supper. Eerdmans, 1980.
  • Joseph A. Jungmann, The Mass of the Roman Rite, Vol. 1. Benziger, 1951.
  • Alexander Schmemann, The Eucharist: Sacrament of the Kingdom. St Vladimir’s Seminary Press, 1987.

Lanjutkan Perjalanan

Renungan lanjutan bagi jiwa yang beriman

Lihat Semua Tulisan

Bergabunglah dengan Gulungan yang Hidup

Terima renungan rohani mingguan, pembaruan liturgi, dan tulisan dari para Bapa Gereja langsung di kotak masuk Anda.