40 HARI PUASA CATUR DASA
Sabtu Lazarus menjadi titik terang di tengah perjalanan asketis kita, saat Gereja mengenang kebangkitan Lazarus oleh Kristus (lih. Yohanes 11). Peristiwa ini bukan hanya mukjizat, tetapi juga tanda ilahi yang mengarah langsung kepada kemenangan atas maut. Dalam terang ini, kenosis—pengosongan diri—bukanlah kehilangan, melainkan jalan menuju kepenuhan hidup di dalam Kristus. Dengan merendahkan diri, kita membuka ruang bagi kuasa kebangkitan untuk bekerja dalam hati kita.
Rasul Paulus menulis: “Ia telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba” (Filipi 2:7). Kristus tidak mempertahankan kemuliaan-Nya, melainkan merendahkan diri sampai mati, bahkan mati di kayu salib. Kenosis ini menjadi teladan utama bagi kehidupan rohani kita: melepaskan kehendak diri, ego, dan keterikatan duniawi agar kehendak Allah dinyatakan sepenuhnya. Dalam konteks Sabtu Lazarus, kita melihat bahwa kehidupan baru lahir dari penyerahan total kepada Allah.
Js Yohanes Krisostomus pernah berkata: “Kerendahan hati adalah akar, ibu, dan pengikat dari segala kebajikan.” Tanpa pengosongan diri, tidak ada ruang bagi kebajikan sejati untuk tumbuh. Demikian pula Js Ishak dari Niniwe mengajarkan bahwa hati yang rendah dan hancur adalah tempat kediaman Allah. Kenosis bukan sekadar praktik asketis, tetapi kondisi hati yang sepenuhnya berserah dan terbuka bagi kasih ilahi.
Hari ini, kita diajak untuk merenungkan: apa yang masih kita pegang erat sehingga menghalangi karya Allah dalam diri kita? Seperti Lazarus yang dipanggil keluar dari kubur, Kristus juga memanggil kita keluar dari “kematian” ego dan dosa. Dengan mengosongkan diri, kita tidak menjadi kosong, tetapi justru dipenuhi oleh hidup baru yang berasal dari Dia yang adalah Kebangkitan dan Hidup.
Dkn Tim
