Church
7 min read

Ekklesiologi:dinamika kepenuhan kebenaran Gereja mistikal organik

Fray Dalton

Fray Dalton

Published on May 6, 2026

Penulis asli: Daniel Fs, S.Psi

Versi ini merupakan penulisan ulang dengan penyederhanaan bahasa

Tanggal naskah asli: 12 Desember 2012

1.1 Makna Gereja dan kesatuan Gereja

Kata Gereja berasal dari bahasa Yunani, ekklesia. Jadi dari awal, Gereja itu bukan pertama-tama soal gedung, melainkan soal umat Allah. Dalam ajaran Gereja Ortodoks Timur, Gereja adalah kepenuhan Tubuh Kristus yang satu.

Dasarnya jelas dari Kitab Suci:

“Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.”

Kolose 3:15

Kalau mengacu ke ayat ini, maka Tubuh Kristus yang satu itu menunjuk pada seluruh umat beriman. Jadi anggota-anggota Tubuh Kristus itu adalah orang-orang percaya, bukan kumpulan denominasi yang berdiri sendiri-sendiri lalu digabung seenaknya.

Kadang ada yang bilang begini: bukankah dalam 1 Korintus 12:12-27 dikatakan tubuh itu satu tapi anggotanya banyak? Lalu “anggota yang banyak” itu ditafsirkan sebagai denominasi-denominasi gereja. Masalahnya, tafsir seperti ini lepas dari konteks.

Kalau kita baca 1 Korintus 12 utuh, Paulus sedang bicara soal ragam karunia Roh dalam Gereja. Ada yang diberi hikmat, ada yang diberi pengetahuan, ada yang diberi iman, ada yang diberi karunia menyembuhkan, dan seterusnya. Setelah itu baru Paulus menjelaskan bahwa umat beriman dengan ragam karunia inilah yang menjadi anggota-anggota satu tubuh.

Jadi maksudnya jelas:

yang disebut anggota-anggota Tubuh Kristus itu adalah individu-individu umat percaya, bukan denominasi-denominasi.

Itu dipertegas lagi di 1 Korintus 12:27:

“Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.”

Kata “masing-masing” jelas menunjuk ke orang per orang, bukan ke lembaga gereja yang berbeda-beda.

Jadi kalau mau disimpulkan sederhana:

Tubuh Kristus itu satu, dan anggota-anggotanya adalah umat beriman, bukan pecahan-pecahan denominasi.


1.2 Sifat Gereja dan dinamika Gereja

Kalau kita sudah paham bahwa Gereja itu adalah Tubuh Kristus yang satu, yang terdiri dari umat beriman dengan karunia yang beragam, maka pertanyaan berikutnya: sifat Gereja itu seperti apa?

1. Gereja itu kudus, seperti ibu bagi umat percaya

Paulus memakai gambaran Yerusalem sorgawi sebagai ibu:

“Tetapi Yerusalem sorgawi adalah perempuan yang merdeka, dan ialah ibu kita.”

Galatia 4:25-26

Di sini Paulus membedakan Yerusalem yang sekarang, yang terikat pada perhambaan, dengan Yerusalem sorgawi yang merdeka. Dalam pemahaman Gereja, Yerusalem sorgawi ini menunjuk pada Gereja sebagai ibu rohani umat percaya. Jadi Gereja itu bukan sekadar organisasi, tapi ibu yang kudus.

2. Gereja tidak dibatasi ruang

Artinya Gereja tidak dikurung oleh satu wilayah geografis. Itu sudah kelihatan sejak zaman rasuli: ada Gereja di Korintus, Efesus, Galatia, Roma, dan seterusnya. Jadi Gereja itu hadir di berbagai tempat, tapi tetap satu.

3. Gereja tidak dibatasi waktu

Ini poin penting. Gereja tidak cuma soal umat yang hidup sekarang. Gereja juga mencakup umat Allah sepanjang segala zaman.

Ibrani 12:22-24 bilang bahwa kita “sudah datang” ke Yerusalem sorgawi. Bukan “nanti akan datang”, tapi sudah datang. Jadi ini bukan cuma bahasa masa depan, tapi realitas sekarang.

Dalam bagian itu, persekutuan Gereja mencakup:

  • para malaikat,
  • Allah,
  • roh-roh orang benar yang telah sempurna,
  • dan Yesus Kristus sendiri.

Artinya, persekutuan dalam Gereja bukan cuma dengan orang-orang yang hidup sekarang di bumi, tapi juga dengan umat Allah yang telah mendahului kita. Jadi Gereja punya dimensi di bumi dan di sorga.

Kalau Kristus sebagai Kepala Gereja memiliki dua kodrat, ilahi dan insani, maka secara analogis Tubuh-Nya juga punya dimensi yang kelihatan dan yang tak kelihatan. Karena itu Gereja bersifat katolik, dalam arti universal, bukan dalam arti “Katolik Roma”.

4. Gereja itu apostolik atau rasuli

Gereja disebut apostolik karena iman Kristen sudah disampaikan sekali untuk selamanya kepada orang-orang kudus.

Yudas 1:3 dalam makna aslinya menekankan bahwa iman itu telah diserahkan once for all, sekali dan untuk selamanya. Jadi bukan sesuatu yang terus diubah-ubah seenaknya.

Lalu bagaimana ajaran itu diwariskan?

2 Timotius 2:2 memberi polanya:

apa yang diterima dari para rasul harus dipercayakan kepada orang-orang yang dapat dipercayai dan cakap mengajar orang lain.

Jadi ada pewarisan ajaran yang nyata, dari generasi ke generasi. Bukan liar, bukan putus, bukan bikin tafsir baru seenaknya.


Konsiliarisme, bukan kurialisme

Lalu muncul pertanyaan: apakah dalam sejarah Gereja tidak pernah ada penyimpangan?

Jawabannya: ada. Tapi Gereja punya cara menjaga diri, yaitu lewat sifatnya yang konsiliar.

Maksudnya begini: dalam pemahaman Ortodoks, kepenuhan kebenaran tidak diletakkan pada satu individu yang dianggap mutlak tak bisa salah, melainkan pada Gereja semesta, yang tampak dalam Konsili Ekumenis.

Ini beda dengan sistem yang [kurang lebih] bisa disebut kurialisme, yaitu saat seluruh arah Gereja terlalu terpusat pada satu pemimpin tertinggi. Dalam model seperti itu, kalau pucuknya melenceng, semua di bawahnya bisa ikut melenceng.

Gereja Ortodoks Timur dari awal tidak berjalan dengan pola begitu. Yang dipakai adalah pola konsiliarisme, seperti yang juga tampak dalam Kisah Para Rasul 15, saat persoalan besar diselesaikan lewat konsili di Yerusalem.

Jadi standar kebenaran bukan terletak pada “si A pasti gak mungkin salah”, melainkan pada iman rasuli yang dijaga oleh Gereja secara keseluruhan.


Contoh penyimpangan yang pernah muncul dalam sejarah

Dalam sejarah, beberapa ajaran menyimpang memang pernah muncul dari berbagai wilayah Gereja. Tapi justru lewat mekanisme konsili, semuanya dikoreksi.

Beberapa contoh besarnya:

1. Sabellianisme

Muncul sekitar tahun 215 M di Roma, oleh Presbyter Sabellius.

Ajaran ini bilang bahwa Bapa, Putra, dan Roh Kudus cuma “mode” atau “peran” dari satu Pribadi yang sama. Dalam bentuk modern, pola pikir begini mirip dengan Unitarianisme.

2. Arianisme

Muncul sekitar tahun 250-336 M di Alexandria oleh Arius.

Arius mengajarkan bahwa Putra Allah bukan kekal bersama Bapa, melainkan ciptaan. Dalam versi modern, ini mirip dengan ajaran Saksi Yehova.

3. Ultramontanisme

Muncul sekitar tahun 255 M di Roma oleh Episkop Stefanus.

Ini paham yang menekankan hanya Uskup Roma yang mewarisi seluruh kuasa Petrus. Saat itu sudah ditentang oleh St. Cyprianus dari Kartago. Dalam bentuk modern, pola ini sering dikaitkan dengan kurialisme dan infalibilitas paus dalam Katolik Roma.

4. Nestorianisme

Muncul tahun 428 M di Konstantinopel oleh Patriarkh Nestorius.

Ajaran ini memisahkan dua kodrat Kristus seolah-olah menjadi dua pribadi. Akibatnya, gelar Theotokos untuk Bunda Maria ditolak.

5. Monofisitisme

Muncul tahun 448 M lewat Eutyches.

Ajarannya bilang Kristus hanya punya satu kodrat, yaitu ilahi, karena kodrat insaninya seolah “ditelan”.

6. Monothelitisme

Muncul sekitar tahun 650 M oleh Patriarkh Sergius I dari Konstantinopel.

Paham ini mengakui dua kodrat Kristus, tapi hanya satu kehendak. Bahkan Paus Honorius I pernah dikaitkan dengan ajaran ini, dan kemudian dikutuk dalam Konsili Ekumenis Keenam.

Semua contoh ini dipakai untuk menunjukkan satu hal:

pemimpin gerejawi bisa salah, wilayah gereja bisa salah, tapi Gereja semesta tetap menjaga iman lewat mekanisme konsili.


Gereja sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran

1 Timotius 3:15 bilang bahwa Gereja adalah:

“tiang penopang dan dasar kebenaran.”

Ini penting. Kitab Suci tidak bilang Alkitab berdiri sendiri sebagai tiang penopang, tapi Gereja Allah yang hidup adalah tiang penopang dan dasar kebenaran.

Lalu muncul dua pertanyaan besar:

  1. Apakah Gereja itu masih ada sampai sekarang?
  2. Gereja yang seperti apa yang layak disebut sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran?

Untuk pertanyaan pertama, jawabannya ada di Matius 16:18:

“Aku akan mendirikan Gereja-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.”

Artinya Gereja Kristus tidak mungkin lenyap. Selama Kristus ada, Gereja-Nya tetap ada.

Ini juga ditegaskan oleh:

  • 1 Korintus 10:4: Kristus adalah batu karang itu
  • Efesus 5:23: Kristus adalah Kepala Gereja

Jadi Gereja tetap eksis, karena Kristus tetap hidup dan menjadi Kepala-Nya.


Ciri Gereja yang benar

Kalau begitu, Gereja seperti apa yang layak disebut tiang penopang dan dasar kebenaran?

Di sini dipakai empat ciri utama:

  1. Satu: Tidak terpecah-pecah dalam iman dan ajaran
  2. Kudus: Seperti Yerusalem sorgawi, ibu yang kudus
  3. Katolik: Universal, tidak dibatasi ruang dan waktu
  4. Apostolik: Memiliki kesinambungan rasuli dan menjaga iman rasuli secara utuh

Empat ciri ini juga tercermin dalam Pengakuan Iman Nikea-Konstantinopel:

“Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.”

Menurut kerangka tulisan ini, ciri-ciri itu ada dalam Gereja Ortodoks Timur, dan karena itu Gereja Ortodoks dipahami sebagai Gereja mistikal organik.


1.3 Perwujudan kesatuan Gereja

Dalam Gereja Ortodoks Timur, kesatuan Gereja itu bukan diwujudkan lewat ketundukan kepada satu tokoh tertentu, bukan juga cuma karena ada beberapa ajaran yang mirip. Kesatuan Gereja diwujudkan dalam dua hal utama:

  1. Kesatuan iman dan ajaran secara utuh
  2. Kesatuan dalam Komuni, yaitu Ekaristi

Efesus 4:4-6 menegaskan:

  • satu tubuh,
  • satu Roh,
  • satu pengharapan,
  • satu Tuhan,
  • satu iman,
  • satu baptisan,
  • satu Allah dan Bapa.

Lalu kesatuan itu diwujudkan secara konkret dalam Komuni.

1 Korintus 10:16-17 bilang bahwa cawan syukur adalah persekutuan dengan darah Kristus, dan roti yang dipecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus. Karena roti itu satu, maka kita yang banyak ini juga satu tubuh.

Jadi sederhananya:

  • kesatuan iman melahirkan kesatuan komuni
  • dan kesatuan komuni menjadi tanda adanya kesatuan iman

Itulah sebabnya, dalam pemahaman Ortodoks, komuni bukan sekadar simbol kebersamaan, tapi perwujudan nyata dari kesatuan Gereja.

Continue the Journey

Further reflections for the faithful soul

View All Posts

Join the Living Scroll

Receive weekly spiritual reflections, liturgical updates, and writings from the Fathers directly in your sanctuary of inbox.